Apakah Kepuasan, Apakah Bahaya, Apakah Jalan Membebaskan Diri Sehubungan dengan KENIKMATAN INDRIA? Apakah Kepuasan, Apakah Bahaya, Apakah Jalan Membebaskan Diri Sehubungan dengan BENTUK MATERI? Apakah Kepuasan, Apakah Bahaya, Apakah Jalan Membebaskan Diri Sehubungan dengan PERASAAN?
Dogma “PENGHAPUSAN DOSA” adalah Dogma-Korup yang Lebih Adiktif dan Lebih
Beracun daripada Zat Madat Adiktif Berbahaya manapun, yang Setiap Harinya
Dikonsumsi oleh Umat Agama Samawi hingga Menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana
Dosa-Dosa pun DIkorupsi
Question : Sudah lama saya mengamati, bagi umat islam, buat baik dan tidak buat jahat BUKANLAH IBADAH. Ibadah mereka justru merampas hak orang lain, semisal parkir sembarangan persis di depan pagar kediaman warga meski sebenarnya mereka bisa berjalan kaki ke masjid, berisik dengan bikin polusi suara pakai toa speaker pengeras suara eksternal masjid, bahkan tega merampas hak korban atas keadilan lewat ritual “hapus dosa” setiap harinya, merampas harta terbesar makhluk hidup berupa nyawa si ternak dan menyebut-nyebut nama Allah saat menumpahkan darah (menyembelih), puasa ramadhan konsumsi meningkat dan kerja malas-malasan namun menuntut dihormati serta “dosa setahun dihapuskan”, umroh maka seluruh dosa dihapus, zakat “recehan” untuk membersihkan uang hasil korupsi, begitupula ketika mati sanak-keluarganya berdoa agar sang alamarhum muslim-pendosa dihapus dosa-dosanya. Bukankah orang yang bertanggung-jawab, artinya masih dapat berbuat keliru dalam hidupnya namun siap dan berani untuk bertanggung-jawab, namun mengapa umat muslim justru lebih sibuk untuk “cuci tangan”, “cuci dosa”, serta “cuci uang”?


