Yang disebut tobat / taubat, artinya benar-benar menyesali perbuatan buruknya, jujur mengakui perbuatan buruknya, introspeksi diri, serta bertekad untuk memperbaiki diri serta bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruknya sendiri yang telah pernah menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak lainnya.
Ibarat orang korupsi, jika pelakunya benar-benar menyesal
maka ia akan mengembalikan uang hasil korupsi, mengakui perbuatannya secara
terbuka tanpa ditutup-tutupi, siap menerima hukuman, serta bertekad untuk
memperbaiki diri dalam rangka tidak mengulangi perbuatan buruk dan tercelanya
tersebut.
Tetap harus ada sistem “reward” dan “punishment”,
dalam rangka mendidik diri kita agar tidak mengulangi kekeliruan serupa
dikemudian hari serta ada motivasi untuk menjadi orang baik yang bergaya hidup
higienis dari dosa dan maksiat.
Namun, ketika sang koruptor telah ternyata justru memohon
“PENGHAPUSAN DOSA” kepada Tuhan, alih-alih mengembalikan kerugian negara selaku
korban, lalu kembali korupsi dan lagi-lagi kembali memohon “PENGHAPUSAN DOSA” untuk setiap harinya, setiap tahunnya pada hari raya lebaran,
dan saat meninggal dunia pun
sanak-keluarga sang almarhum pendosawan masih juga berdoa memohon “PENGHAPUSAN
DOSA” bagi sang almarhum koruptor tersebut, maka itu nyata-nyata bukanlah “tobat”,
namun “TOBAT SAMBAL”—hari ini “tobat”, besoknya kembali berbuat.
Alhasil, ideologi
KORUP bernama “PENGHAPUSAN DOSA” begitu adiktif, lebih adiktif daripada obat-obatan
terlarang, membuat para PENDOSA pemeluknya begitu mabuk DOSA dan disaat
bersamaan kecanduan dan mencandu “PENGHAPUSAN DOSA”—keduanya, antara “DOSA”
dan “PENGHAPUSAN DOSA”, adalah saling berkomplomenter satu bundling.
Merugi, jika tidak menikmati iming-iming KORUP bernama “PENGHAPUSAN
DOSA” dengan tidak menjadi seorang “KORUPTOR DOSA” yang mengorupsi dosa-dosa,
begitu kata para muslim—dengan konyolnya berbangga diri tanpa rasa malu.
Babi, disebut haram.
Namun ideologi KORUP bernama “PENGHAPUSAN DOSA”, disebut
sebagai halal—bahkan dijadikan “halal lifestyle” setiap harinya mabuk dan ketagihan
doa-doa permohonan “PENGHAPUSAN DOSA”.
Bung, hanya seorang PENDOSA yang butuh PENGHAPUSAN
DOSA—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
- No.
4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857
: “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa
bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam
sehari, maka dosanya akan dihapus,
meskipun sebanyak buih lautan.”
- No.
4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No.
4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk
Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian
disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini
warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku
rizki).”
- No.
4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya
saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha
Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu
memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku
mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang
meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
“Standar moral” semacam
apakah, yang menjadi sunnah nabi rasul Allah, sang kekasih Allah yang
disebut-sebut oleh ibu-ibu pengajian sebagai manusia paling sempurna, paling
baik, paling suci, paling baik, dan paling mulia? Telah ternyata berupa teladan
MABUK dan MENCANDU PENGHAPUSAN DOSA—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
- No.
4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah
tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah
menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa
sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan
yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No.
4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang
do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No.
4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku
lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah
bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya
bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu
maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi
seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR
Bukhari Muslim]
Ajaran seperti demikian di atas, justru membuat para
muslim pemeluk agama islam terjebak dan terjerat kian dalam menjadi seorang
PENDOSA PEMALAS PENGECUT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA. Hidup dan matinya divonis
menjadi sebatas sebagai seorang PENDOSA PEMALAS PENGECUT PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA!
Itulah konyolnya delusi diri para muslim, yang mengklaim kaumnya
sebagai kaum paling superior yang merasa berhak menghakimi kaum lainnya. Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran.
Yang hebat bukanlah dengan menjadi seorang PENDOSA
PEMALAS PENGECUT PENJILAT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA—siapapun sanggup dan mampu
menjadi seorang PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA—namun menjadi seorang KSATRIA
yang berjiwa ksatria dengan berani dan siap-sedia bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan
buruk mereka sendiri yang telah pernah menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak
lainnya, serta yang tertinggi ialah para suciwan yang selama ini terlatih dalam
praktik disiplin diri yang ketat bernama “mawas diri” dan “self-control”.
“Agama DOSA”, semakin dipeluk dan di-imani alias semakin
agamais para muslim, maka semakin mereka tidak takut berbuat dosa serta kian
menjelma menjadi seorang PENDOSAWAN SEJATI yang berparadigma berpikir KORUP : “Buat
dosa, siapa takut, ada PENGHAPUSAN DOSA!”
Dosa-dosa saja mereka KORUPSI, terlebih korupsi uang
rakyat. Itulah yang disebut “KORUPSI DOSA” oleh para PENDOSAWAN (KORUPTOR DOSA)
yang mengorupsi dosa-dosa yang selama ini mereka produksi sendiri.