Izinkan kami bertanya kepada para kaum muslim yang selama ini berdelusi merasa diri mereka sebagai kaum paling superior yang merasa berhak menghakimi kaum lainnya, dimana letak “SUCI”-nya dari Kitab yang justru mempromosikan PENGHAPUSAN DOSA bagi PENDOSA berikut—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
“Standar
moral” semacam apakah, yang menjadi sunnah nabi rasul Allah? Telah ternyata
berupa teladan MABUK dan MENCANDU PENGHAPUSAN DOSA—juga masih dikutip dari
Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan).’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]
Belum
lagi kita bicara tentang PESTA-PORA OBRAL PENGHAPUSAN DOSA saat “Bulan DOSA”
yang bernama Ramadhan, dimana para muslim mabuk HAPUS DOSA dan
bermabuk-mabukkan PENGHAPUSAN DOSA—konsumsi meningkat, kerja malas-malasan,
menuntut dihormati, menghakimi kaum lain sehingga tidak bisa makan ataupun buka
usaha kuliner sekalipun agama lain punya jadwal puasanya sendiri, menuntut THR,
serta mengharap “puasa sebulan, dosa-dosa setahun penuh dihapuskan”.
Begitupula
ketika sang muslim meninggal dunia, lewat toa speaker pengeras suara, yang
didoakan ialah doa-doa memohon PENGHAPUSAN DOSA bagi sang almarhum PENDOSA.
Bung,
HANYA SEORANG PENDOSA YANG BUTUH PENGHAPUSAN DOSA!
Babi,
HARAM.
Penghapusan
Dosa, HALAL.
Itukah,
yang disebut “Agama SUCI” ataukah lebih layak diberi gelar sebagai “Agama DOSA”
yang mempromosikan PENGHAPUSAN DOSA alih-alih mengkampanyekan gaya hidup
higienis dari dosa?
Pendosa,
tapi hendak berceramah perihal akhlak, hidup suci, luhur, lurus, agung, mulia,
jujur, baik, serta terpuji?
Bukankah
itu menyerupai ORANG BUTA, yang hendak menuntun para BUTAWAN lainnya? “Neraka”
pun dipandang sebagai “surga”, dan “DOSA” dipandang sebagai “SUCI”.
AURAT
TERBESAR ialah berbuat dosa itu sendiri—seperti menyakiti, merugikan, ataupun
melukai individu-individu lainnya. Justru dipertontonkan secara vulgar lewat
speaker pengeras suara kepada publik, lewat doa-doa KORUP permohonan
PENGHAPUSAN DOSA (bagi PENDOSA, tentunya).
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu KOMPROMISTIK. Namun terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu INTOLERAN.
“Kabar
gembira” bagi PENDOSA, sama artinya “kabar derita dan buruk” bagi kalangan
KORBAN—seolah, Tuhan lebih PRO terhadap PENDOSA PEMELUK AGAMA DOSA.