Yang Betul-Betul Menyesali Perbuatannya, ialah Mereka yang Berani untuk Bertanggung-Jawab Atas Perbuatan-Perbuatan Buruk Mereka Sendiri—Kaum KSATRIAWAN
Kaum PENGECUT, Mabuk dan Kecanduan Doa Permohonan PENGHAPUSAN
DOSA
Hanya kaum ksatriawan, yang siap-berani untuk tampil bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya yang telah pernah ia sakiti, lukai, maupun rugikan. Bandingkan dengan sikap kaum PENGECUT bernama umat pemeluk agama samawi (islam dan kristen / nasrani) yang justru meminta pengampunan dosa alih-alih bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya. Karenanya, yang lebih hebat ialah mereka yang memilih untuk menjadi seorang ksatriawan, bukan para PENDOSA PEMALAS PENGECUT PENJILAT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA—semua orang sanggup menjadi PENDOSA yang MABUK PENGHAPUSAN DOSA, namun tidak semua orang sanggup dan mau menjadi seorang berjiwa ksatria (jentelmen).
Sering terjadi dalam praktik
peradilan, para pelaku kejahatan ketika belum ter-endus oleh aparatur penegak
hukum, mereka tidak mengakui perbuatannya juga tidak menyesali perbuatannya,
terlebih diharapkan untuk secara proaktif bertanggung-jawab memulihkan kerugian
korban. Namun, ketika ditangkap dan diadili di depan persidangan, mereka “mendadak
alim”, lengkap dengan busana agamais. Para terdakwa tersebut, selalu dalam nota
pembelaannya mengklaim “mengakui dan menyesali perbuatannya”. Menyesal, ketika
tertangkap dan disidangkan. Sebaliknya, bila tidak tertangkap dan tidak dimintakan
pertanggung-jawaban, mereka merasa seolah-olah bebas dari dosa—serta masih pula
berdelusi sebagai kaum paling superior serta terjamin masuk surga (?).
Berangkat dari paradigma
berpikir demikian, maka hanya seorang ksatria yang benar-benar sepenuhnya
menyesali perbuatannya yang telah pernah menyakiti, merugikan, ataupun melukai individu-individu
lainnya, sehingga para korbannya bahkan tidak perlu mengemis-ngemis pertanggung-jawaban
terlebih menuntut keadilan dari sang ksatria. Tidak jarang, korban tidak
menyadari telah menjadi korban, namun jiwa ksatria kalangan ksatriawan
senantiasa mengetuk dirinya sendiri untuk tetap tampil bertanggung-jawab, tidak
“lempar batu, sembunyi tangan”, terlebih meminta “penghapusan hukuman”.
Sebaliknya, orang-orang yang
dalam kesehariannya justru MABUK DOSA dan disaat bersamaan komplomenter menjadi
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA, sejatinya bukanlah kaum yang benar-benar menyesali
perbuatannya, akan tetapi mencoba berkelit dari konsekuensi perbuatannya
sendiri dengan meminta ampunan dari Tuhan alih-alih bertanggung-jawab kepada
sang korban. Sehingga, “Agama DOSA” berikut membuat umat pengikutnya menjadi
seorang KORUPTOR DOSA yang MENGORUPSI DOSA. Bung, hanya seorang PENDOSA yang
butuh PENGHAPUSAN DOSA—kesemuanya dikutip dari
Hadis Sahih Muslim:
- No.
4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
- No.
4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No.
4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No.
4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk
Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian
disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini
warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku
rizki).”
- No.
4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya
saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha
Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu
memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku
mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
“Standar moral” semacam
apakah, yang menjadi sunnah nabi rasul Allah, sang kekasih Allah yang disebut-sebut
oleh ibu-ibu pengajian sebagai manusia paling sempurna, paling baik, paling
suci, paling baik, dan paling mulia? Telah ternyata berupa teladan MABUK dan
MENCANDU PENGHAPUSAN DOSA—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
- No.
4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah
tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah
menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa
sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan
yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No.
4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang
do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No.
4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah
bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya
bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu
maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi
seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR
Bukhari Muslim]